Diary Kelas Kita
Kelas yang dulu kelabu kini mulai berwarna. Warnanya sangat indah dan tak ada duanya.
Sabtu, 09 April 2016
Hilang
Rasa itu memecah keheningan. Mengoyak berbagai luka yang sudah tertutup rapat. Membuat siapa saja yang merasakannya menjadi meringis. Tak seharusnya pernyataan konyol seperti itu terlontar dari mulut seseorang yang belum berpengalaman dalam urusan hati.
Lima orang gadis duduk melingkari sebuah meja dengan ukuran 60x40 cm. Wajah mereka tegang seperti menunggu malaikat kematian mencabut nyawanya. Tak hanya itu, bahkan salah satu dari mereka seperti mandi keringat sehingga mengharuskan ia untuk sesekali mengusap dahinya.
"Aku ga suka sama siapa-siapa" akhirnya gadis yang menjadi pusat perhatian bergeming. Empat teman yang sudah menanti-nanti jawabannya terlihat kecewa.
"Bohong, pasti ada. Aku ga suka kalau ada rahasia di antara kita. Ingat kita ini sahabat" gadis bertubuh sedikit gempal terlihat geram mendengar pengakuan yang tidak diharapkannya.
"Aku ga bohong"
"Jangan-jangan kamu suka sama... " gadis bermata sipit menggerakkan bibirnya merapalkan sebuah nama. Tiga gadis lainnya mengerjap melihat pergerakan bibir gadis bermata sipit tersebut.
Gadis yang selama ini menjadi pusat perhatian hanya mengangguk. Ia tak menyangka kalau keempat sahabatnya mengetahui apa yang ia rasakan. Ia tidak tau perasaan apa yang tengah menghampirinya. Cinta monyet, ya hanya itu. Setelah itu, satu persatu dari mereka berlima menyatakan apapun masalahnya. Dari masalah hati, keluarga, hingga pelajaran. Mereka melakukan secara terbuka layaknya sebuah keluarga. Hingga mereka membuat perjanjian akan selalu bersama sampai mereka tua.
Lama kelamaan, satu persatu dari mereka menjauh. Ada yang menemukan teman baru, ada yang merasa tak dianggap, ada yang tidak tahan dan sebagainya. Semua terasa berbeda dari pertama berjumpa. Janji yang terucap seperti angin lalu yang menerbangkan berbagai kepingan kenangan yang pernah terajut. Tak ada yang menyangkal kalau semua akan begini jadinya. Ada yang terluka dan ada yang bahagia. Ada yang melangkah dan ada yang terdiam. Ada yang berubah dan ada yang sama. Itulah kehidupan, kita tak pernah tau apa yang akan terjadi dengan nasib persahabatan kita.
Hingga kini, kelima sahabat itu menentukan jalannya masing-masing. Tanpa tau yang mana bahagia dan yang mana sedih. Mereka tak peduli satu sama lain.
By Devi Kumala
Langganan:
Postingan (Atom)